“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Huud : 112)
Berawal dari pemakluman yang berulang...
Maklum aja lah mbak, ane kan tomboy...wajar dunk kalo temen ane banyak ikhwan
Maklum aja lah mbak, kan cuma ikhwan yang bisa buat grafik, akhwat mah jarang yang bisa...
Maklum aja lah mbak, dia kan belum ngerti... jadi apa salahnya jika ane yang kasih tau...
Maklum aja lah mbak, acaranya tuh besok, kalo ga ane telpon malem ini, ntar dia lupa lagi bawa editan majalahnya...
Maklum aja lah mbak, kami kan cuma sahabatan, ya kayak kakak dan adek angkat gitu...
Maklum aja lah mbak...
Maklum aja lah mbak...
Mungkin anda pernah mendengar sanggahan seperti kalimat diatas dari para Mad’u (adek2 anda), atau anda sendiri yang mengatakannya pada Murrobi anda, ketika anda dinasehati sehubungan adanya zhon / prasangka / gosip yang beredar..
Ya...berawal dari pemakluman yang berulang..
Maka nilai ukhuwah antara lawan jenis. Akhi and ukhti fillah, sedikit bergeser menjadi kepentingan pribadi...
Bukan berarti komunikasi antara lawan jenis itu dilarang, akan tetapi ada beberapa hal yang termasuk dalam Akhlaq Seorang Muslim terhadap lawan jenisnya yang wajib ditaati yaitu : 1. Komunikasi antara keduanya harus dalam batas ucapan yang baik, tidak mengandung kemunkaran, tidak mengandung hal yang tidak bermanfaat,dsb (QS.33:12)
2. Menundukkan pandangan (QS.24:30-31) kecuali dalam hal pendidikan, kesehatan/kedokteran, jual beli, dan meminang.
3. Menghindari percampuran antara lawan jenis (ikhtilat)
4. Tidak berkhalwat nyata ataupun khalwat virtual / berduaan antara lawan jenis
5. Menghindari posisi syubhat yang memungkinkan munculnya pandangan negatif dari orang lain.
Nah agar tidak terjadi posisi syubhat yang memungkinkan munculnya pandangan negatif atau zon zhon (prasangka prasangka) yang timbul dari orang lain…
Hendaknya pemakluman pemakluman tersebut harus diminimalisir…alias ga ditolerir lagi.
Karena posisi semacam diatas dapat dihindari dengan kerja profesional…seperti sifat tomboy, bukan berarti karena kita adalah akhwat tomboy, kita dapat lebih bebas berteman, berkomunikasi dengan lawan jenis tanpa menjaga batasan batasan yang sudah ditetapkan dan digariskan oleh Allah SWT, dan sudah dicontohkan oleh Rasul dan Sahabiyahnya. Bagaimanapun sudah hukum alam bahwa setiap manusia itu saling membutuhkan dalam artian sebagai mahluk sosial. Dan juga bukan berarti dakwah ini akan berhasil hanya semata mata karena peran besar para ikhwan / laki laki, karena sesungguhnya di balik karya karya besar para pahlawan (dari zamannya Rasulullah sampai dengan Ayah kita) selalu ada buah kesabaran dan dukungan semangat dari kaum ibu / wanita.
Kemudian soal kemampuan mengunakan komputer dan sejenisnya, yang memang saya juga mengakui, ikhwan lebih cepat dan lebih baik dalam hal penguasaan teknologi. Akan tetapi hal tersebut tidak bisa menjadi alasan untuk membuat kita memudahkan dan melonggarkan hijab yang sudah ada. Kita para akhwat tetap bisa meminta bantuan kepada mereka, namun kita juga harus belajar, patahkan pemeo bahwa para akhwat itu GAPTEK. (Hm…buktinya sekarang saya bingung, dulu temen2 akhwat minta bantuan saya soal grafik dan program komputer, skrg ketika saya yang kepentok permasalahan program komputer pada skripsi saya, saya jd bingung…mo nanya ma akhwat mana????)
Hm..boleh aja kok, minta bantuan para ikhwan, akan tetapi memang karena hal itu harus dilakukan, bukan karena mencari alasan untuk berkomunikasi.
Menyoali permasalahan dakwah lawan jenis yang non muhrim (dalam konteks dakwah fardiyah / pendekatan personal ya), saya juga punya temen laki laki yang masih amah, alias belum mengerti dan belum memahami syariat islam secara mendalam dan belum melaksanakannya secara aplikatif. Terus terang kami cukup akrab, karena sudah berteman sejak kecil, kemudian satu sekolah, satu kelas pula. Namun tidak menjadi alasan bagi saya untuk memberinya keistimewaan, melonggarkan hijab yang sudah jelas ada antara laki laki dan perempuan. Walaupun begitu, objek dakwah kita bisa jadi siapa saja, akan tetapi agar tidak terjadi kontaminasi negatif ya kita boleh memilih toh, akhwat dakwahnya ya sama yang perempuan aja (ibu ibu, temen2 perempuan). Ada banyak strategi strategi yang dapat kita lakukan untuk mencegah posisi syubhat (menghindari kontaminasi akibat dakwah lawan jenis) tersebut. Misalkan, memperkenalkan teman kita tersebut, dengan seorang teman kita (ikhwan) yang sudah lebih dulu mengerti dan faham tentang nilai-nilai keislaman dan aplikatif dalam menjalankan keislamannya secara kaffah. Bukankah yang lebih mengerti ikhwan adalah ikhwan, dan yang lebih mengerti akhwat adalah akhwat, sehingga pendekatan secara personal, akan lebih mudah dijalankan.
Kemudian, mengenai longgarnya komunikasi antara ikhwan dan akhwat, juga di sebabkan adanya legalitas ataupun pemakluman yang terlalu berkesan sebagai bantahan atas kebebalan yang terjadi.
Pernahkah anda menghitung berapa persen, biaya komunikasi yang anda keluarkan murni untuk hal hal yang bermanfaat, dan berapa persen untuk kesia-siaan. Saya pernah mencoba menghitung. Dan masyaAllah... hampir 70 % untuk hal hal yang tidak ada gunanya, kalopun ada..manfaatnya itu samar samar. Maksudnya walaupun saya lakukan, hal tersebut tidak akan mengurangi atau menambah apapun.
Hm..saya punya sebuah cerita mengenai kebiasaan saya. Dulu bagi saya yang namanya komunikasi dengan lawan jenis bukanlah suatu hal yang berbahaya. Selama tidak mengarah ke hal hal pribadi dan ke arah komitmen pernikahan. Namun seperti orang jawa bilang “witing tresno jalaran soko kulino “ , cinta itu bisa muncul karena intensnya pertemuan. Saya sempat mengacuhkan pepatah tersebut “ Ah, terserah dia (lawan bicara) mau gimana perasaannya pada saya, yang penting saya bisa menjaga hati dan tidak tertarik padanya”. Hm ternyata dulu saya egois ya. bukankah kita tau, ketika orang lain melakukan suatu kemaksiatan karena kita, maka kita kecipratan juga dosanya.
Dengan kata lain, jangan menjadi perantara atas terjadinya “SIMPati”, kalo bisa kita harus saling menjaga, (bukan berarti mencintai itu dosa, mencintai itu tetap fitrah, karena itu harus dijaga kesuciannya, semoga saja SIMPati yang ada tidak berubah menjadi nafsu dan emosi sesaat). Menyikapi hal diatas, munculnya SIMPati atau rasa kagum karena seringnya berkomunikasi lawan jenis yang kurang sehat, dapat dicegah dengan meminimalisir, atau pun menyelektif kapan dan bagaimana kita harus berkomunikasi dan apa yang akan dikomunikasikan. Nih ada beberapa tips yang dapat dilakukan dalam menjaga komunikasi antara lawan jenis
TIPS :
1. Niatkan dalam setiap urusan, bahwa anda mencari ridho Allah, agar tidak terjadi hal hal diluar keinginan
2. selesaikan segala urusan di dalam pertemuan (syuro’) agar tidak terjadi komunikasi berlanjut yang dikhawatirkan akan menyebabkan timbulnya masalah yang lain. Dalam konteks ikhwan akhwat pada sebuah organisasi.
3. Nada tegas, lugas, dan seperlunya ketika berbicara ( jangan memancing di air keruh) dengan menambah topik yang tidak penting dengan maksud mencairkan suasana, seperti canda yang kelewat batas. (hm.. salah satu adab bercanda adalah, tidak bercanda dengan lawan jenis non muhrim secara berlebihan). Apalagi buat para akhwat, kalo ngomong suaranya jangan dibuat “menggoda”. Biasa biasa aja, be your self lah. Karena ada kejadian, ada ikhwan yang naksir, Cuma gr2 denger suara akhwat tersebut selama syuro’.
4. Tidak menghubungi, bila tidak terlalu penting, baik sms maupun telpon.
5. Jika dengan sms saja sudah cukup, tak perlu menelepon. Kan lebih hemat euy.
6. Mulai dari diri sendiri, orang tidak akan hormat dan menghargai kita jika kita tidak menghormati dan menghargai diri sendiri.
7. Jika memang sudah berusaha menjaga, namun tetap muncul yang namanya SIMPati, yang harus dilakukan adalah SIMPan dalam hATI, perasaan kagum tersebut, semoga jika memang berjodoh, insyaAllah akan di ridhoi. Tidak perlu melakukan manuver manuver mencari perhatian orang tersebut.
8. Kita harus tetap ingat bahwa Allah adalah Tuhan yang menguasai seluruh alam semesta dan Dia mengetahui, melihat, dan mendengar apa yang tidak dapat kita ketahui, lihat, dan dengar; dan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang akan terjadi dan tidak kita sadari.
“ Jika kamu tak malu, maka lakukanlah segala nya” (al hadist)
Hm..yang terakhir mengenai persahabatan dan fenomena kakak dan adik angkat dikalangan ikhwah.. menurut saya tidak ada jaminan ketika seorang yang kita anggap sebagai kakak angkat atau adik angkat mampu menjaga hatinya. (bukan su’udzhon / berprasangka buruk loh ). Karena apa? Karena mereka bukan saudara kandung, tidak berasal dari rahim ibu yang sama, tidak dari tetesan darah yang sama. Jadi tidak menutup kemungkinan akan timbulnya ketertarikan satu sama lain, bisa jadi pemakluman tersebut merupakan salah satu langkah setan untuk mengoda hati kita. Karena itu hati hatilah bersikap, hati hatilah menyikapi hidup. Persoalan hati merupakan suatu hal yang sangat ekstrim, suatu hal yang sangat mempengaruhi segala sesuatu dalam diri kita. Karena segalanya bermula dari hati, bermula dari Qolbu (hati). Kalo hatinya baik, segalanya akan baik, kalo hatinya buruk, maka segala akan buruk.
Saya menulis ini, bukan karena saya sok tau, sok hebat, sok jaga..ataupun ingin menghakimi ukhti fillah. Melainkan karena saya prihatin, saya peduli, saya merasa bagian dari ukhti fillah sekalian. Sesama muslim wajib untuk saling menasehati. Ketika saya menulis ini, saya sedang ingat, maka saya mengingatkan teman teman yang lupa. Dan nantinya ketika saya lupa. Saya mengharapkan ada teman teman yang mengingatkan... Annasu makana khoto’ wa nisiyan...
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”
(QS. Al-Jaatsiyah : 18)
Karena saya adalah akhwat...
Akhwat bukanlah satria baja hitam yang dapat berubah secara tiba-tiba tergantung kondisi tempat ia berada. Akhwat juga bukan seperti bunglon, ketika hinggap di rumput maka tubuhnya menjadi hijau, dan ketika di pohon maka warna tubuhnya pun berubah seperti pohon. Tidak. Akhwat bukan bagian dari keduanya.
Karena kita adalah akhwat... yang seluruh bagian dirinya adalah label dakwah, pakaian, sikap, kepribadian, akhlak....
Akhwat di manapun kita berada tetaplah tampil sebagai akhwat. Apapun kondisi yang terjadi, akhwat selayaknya tetap menampilkan karakter cara islam yang baik. Di rumah, kantor, kampus, pasar, taman, bahkan di WC sekalipun, akhwat tetaplah akhwat yang senantiasa menjaga nilai-nilai islami di dalam dirinya. Apakah itu di dunia nyata atau di dunia maya yang akhir-akhir ini menjadi ladang dakwah dan sarana akhwat dalam mengoptimalkan potensi dan meningkatkan keilmuannya.
Karena kita adalah akhwat, Akhwat pun bukan pula malaikat tanpa cacat dan dosa, yang tidak pernah melakukan kesalahan ketika beraktivitas dalam hidupnya, namun seorang akhwat ketika telah menjadi bagian dari dakwah ini hendaknya senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan hal-hal yang tidak selayaknya dilakukan oleh orang yang telah lebih baik memahami islam dibandingkan masyarakat umum lainnya.
Berusaha mencapai yang terbaik bukan berarti menjadi seorang perfectionis yang tanpa cacat. Namun kewajiban kita untuk mempertahankan dan memperjuangkan nilai nilai islam dengan sepenuh hati dan sekuat jiwa. Tanpa takut mendapat tekanan dari manusia lain. Ingat Allah bersama kita, manusia hanyalah mahluk Allah. Karena itu bergantunglah, dan takutlah hanya pada Allah semata.(ff)
“ “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”
(QS. Al-Ahqaaf :13)
Nb yang panjang : ini ditulis ketika kepala ane sedang pusing dengan skripsi yang macet, karena grafiknya ga jadi jadi. Trus dpt sms “ ukh...tau ga? Si fulan ama si fulana skrg pacaran loh, masyaAllah ga nyangka ya? Coz mereka kan dah jadi aktivis dakwah yang jam terbangnya tinggi, kok sampe bisa begitu kabarnya sich mau nikah. Tp prosesnya itu loh parah banget, ga syar’i, katanya sich bermula dari komunikasi yang intens”
Hm...Nah loh...lg pusing eh diajak ghibah...
Innalillah...
Intermezzo :
Jalan menuju gerbang pernikahan itu selalu maju, tidak pernah mundur...so nyante aja lah..kalo udah waktunya insyaAllah.. bakal menikah juga kok..
Lagipula yang harusnya kita tunggu itu jodoh kita, bukan ikhwan A, si B, si C, Si D ampe si Z...
Emang dah tau siapa jodoh kalian???? Kan Allah dah mengatur siapa jodoh kita, bahkan sebelum kita lahir.. so jangan takut jadi jomblo atau jadi perawan tua...
Ane aja masih seneng jadi JOCAN “ JOMBLO CANTIK” HEHEHE
Utk ikhwan…
Bila anda istiqomah di jalan da’wah ini,
Bidadari telah menanti anda di syurga nanti…
Utk Akhwat…
Bila anda istiqomah di jalan da’wah ini,
Anda lebih baik dari bidadari yang terbaik yang ada di syurga…